Diam-Diam Harga Batu Bara Sudah Dekati US$ 130 per Ton

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara melanjutkan penguatan, semakin mendekati level psikologis US$130 per ton. Menguatnya harga batu bara membatalkan penurunannya ke level terendah tahun ini yang terjadi pada 6 November lalu. Penguatan harga masih didorong oleh sentimen perkiraan tingginya permintaan China, potensi kebutuhan India, dan Rusia yang meningkatkan volume untuk memenuhi kebutuhan.

Merujuk pada Refinitiv, harga batu bara ICE Newcastle kontrak Desember ditutup di posisi US$ 128 per ton atau melonjak 0,79% pada perdagangan Kamis (23/11/2023). Posisi saat ini menunjukkan peguatan harga 3 hari perdagangan beruntun.

Kenaikan harga terjadi seiring kebutuhan China yang diperkirakan terus mengalami peningkatan pesat dalam permintaan listrik, yang tidak hanya didorong oleh pertumbuhan ekonomi, namun juga oleh perubahan iklim.

Lonjakan permintaan listrik selama gelombang panas berkontribusi terhadap pemadaman listrik pada tahun 2022, terutama karena hal ini terjadi bersamaan dengan periode kekeringan yang menghambat produksi pembangkit listrik tenaga air.

Sebagian besar wilayah di Tiongkok mengandalkan tenaga batu bara untuk sebagian besar pasokan listriknya, dan kekurangan sumber gas berbiaya rendah yang dapat mendukung pembangkit listrik tenaga angin dan surya.

Masih di Asia, analis memperkirakan akan adanya pertumbuhan volume produksi dari Coal India Ltd sebagai perusahaan batu bara terbesar di negara konsumen batu bara terbesar ke-2 dunia.

Melansir Money Control, Kebijakan peningkatan volume produksi Coal India Ltd ke depan dilakukan untuk memastikan pembangkit pembangkit listrik di seluruh negeri menerima pasokan batubara yang cukup.

Tingginya kebutuhan batu bara India mendorong permintaan impor yang juga cukup besar. Sebagai informasi, India merupakan importir batu bara terbesar dari Indonesia. Data menunjukkan India mengimpor batu bara sebanyak 28,8 juta ton sepanjang 2023 hingga Oktober.

Tingginya permintaan India dari Indonesia disebabkan oleh pembangkit listrik India yang menggunakan campuran batu bara dengan kalori yang cocok dengan karakteristik Indonesia. Bahkan, impor batu bara India dari Indonesia pada Oktober hampir mencapai 2 kali lipat dari China.

Selain itu, Rusia sebagai salah satu negara eksportir batu bara juga mengalami peningkatan investasi untuk pengembangan ke depan. Investasi di sektor batubara Rusia dapat meningkat 17,7% menjadi 277 miliar rubel (US$3 miliar) pada akhir tahun 2023.

Melansir Azer News, produksi batubara Rusia diperkirakan mencapai 440 juta ton pada 2023, sementara ekspor diproyeksikan sebesar 221 juta ton.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(mza/mza)[Gambas:Video CNBC] 

Updated: November 24, 2023 — 1:15 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *