Selamat Pak Jokowi! RI Kebanjiran Dana Asing Triliunan Rupiah

Jakarta, CNBC Indonesia – Arus dana asing terus membanjiri pasar keuangan domestik sejalan dengan makin optimismenya pelaku pasar jika bank sentral bank Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve akan melunak ke depan.

Besarnya arus masuk dana asing tercatat dalam data Bank Indonesia. Merujuk data BI merilis data transaksi 20 – 23 November 2023, investor asing di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp7,03 triliun.Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), investor asing mencatat beli neto sebesar Rp1,59 triliun sementara di pasar saham tercatat beli neto Rp0,30 triliun di pasar saham dan beli neto Rp5,13 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Inflow pekan lalu melanjutkan tren positif pada pekan sebelumnya (13 – 16 November 2023) yang menembus Rp7,33 triliun dengan didominasi oleh SRBI sebesar Rp3,97 triliun dan diikuti oleh beli neto di pasar SBN sebesar Rp2,49 triliun.

Besarnya inflow menjadi kabar gembira bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pada Oktober lalu, Jokowi dalam beberapa kesempatan menyatakan kekhawatirannya mengenai banyaknya investor asing yang kabur dari Indonesia.

mengungkapkan bahwa kebijakan kenaikan suku bunga yang tinggi oleh Amerika Serikat (AS) membuat negara-negara berkembang semakin dalam posisi pelik.

“Capital outflow semua lari balik ke Amerika Serikat,” ungkap Jokowi, dikutip Minggu (29/10/2023).

Masuknya dana asing ini tak lepas dari optimisme pasar mengenai kebijakan The Fed ke depan. Pelaku pasar optimis The Fed akan melunak setelah data-data ekonomi AS menunjukkan pelemahan.Inflasi AS melandai ke 3,2% (year on year/yoy) pada Oktober 2023, dari 3,7% (yoy) pada September. 

Perangkat CME FedWatch tool menunjukkan 97% pelaku pasar melihat The Fed masih akan menahan suku bunga pada Desember mendatang. Artinya, hingga akhir tahun suku bunga masih berada di level 5,25-5,50%.

Inflow juga ditopang oleh data ekonomi Indonesia tepatnya transaksi berjalan yang jauh mengalami perbaikan dibandingkan kuartal II-2023 yang defisit cukup dalam.

Pada Selasa (21/11/2023), BI merilis neraca transaksi berjalan pada kuartal III-2023 menorehkan defisit senilai US$900 juta atau sekitar Rp3,91 triliun (US$ 1=Rp15.450). Nilai tersebut setara dengan 0,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit ini jauh menurun dibandingkan dengan defisit US$2,2 miliar (Rp33,9 triliun) atau 0,6% dari PDB pada triwulan sebelumnya.

Menyempitnya transaksi berjalan ditopang oleh membaiknya neraca barang dan jasa serta pendapatan primer. Surplus dagang meningkat menjadi US$10,27 miliar pada kuartal II-2023, dari US$61,97 miliar pada kuartal II-2023.

Perbaikan neraca transaksi berjalan turut ditopang oleh penurunan defisit jasa, yang didukung oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara seiring dengan pemulihan sektor pariwisata yang terus berlangsung. Selain itu, defisit neraca pendapatan primer juga menurun sejalan dengan pembayaran imbal hasil kepada investor asing yang lebih rendah.

Di lain sisi pada Kamis (23/11/2023), BI pun memutuskan untuk kembali menahan suku bunganya di level 6% yang memastikan terdapat selisih sekitar 50 basis poin (bps) antara BI rate dengan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang saat ini berada di posisi 5,25-5,50%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan tetap tetap konsisten dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pencegahan untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor atau imported inflation. Dengan demikian diharapkan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(rev/rev)[Gambas:Video CNBC] 

Updated: November 27, 2023 — 4:05 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *