Tak Hanya RI, Asia Tenggara Juga Diserang Covid-19

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah negara-negara di Asia Tenggara dan sekitarnya mulai bersiap kembali menghadapi gelombang virus Covid-19. Pemasangan pemindai suhu di bandara hingga menghimbau masyarakat untuk kembali mengenakan masker pun dilakukan.

Di Indonesia, kasus Covid-19 mulai naik. Hari ini, Rabu (20/12/2023), kasus Covid-19 baru di RI tembus 453 orang. Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan, total kasus aktif saat ini ada 2.548.

Lonjakan kasus Covid-19 di RI sudah dimulai sejak akhir November lalu. Kasus mingguan yang tadinya cuma 30-40, naik menjadi 267 pasien pada periode 28 November hingga 2 Desember 2023.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi menyebutkan peningkatan kasus Covid-19 dibarengi dengan kenaikan jumlah tes. Di sisi lain, ada dugaan varian baru yang memicu tingkat transmisi atau penularan lebih cepat dan lebih mudah menginfeksi.

“Ada beberapa faktor penyebab kenaikan kasus Covid-19. Pertama adanya peningkatan kewaspadaan gejala pneumonia seperti yang merebak di China. Salah satu yang juga diperiksa jika ada keluhan batuk, pilek, kan tes COVID-19. Ini gejala awalnya sama, otomatis pasti terjadi peningkatan deteksi,” tutur dr Nadia, dikutip dari Detikcom.

Nadia menyebut beberapa kali Indonesia mencatat nihil kasus kematian pasca status gawat darurat Covid-19 dicabut beberapa bulan lalu. Namun tetap, sebagai kehati-hatian, masyarakat diminta untuk menunda terlebih dulu bepergian ke negara dengan catatan kasus Covid-19 tinggi.

Singapura

Negara tetangga RI pun mengalami situasi serupa. Menurut Kementerian Kesehatan Singapura, kasus Covid-19 di negara kepulauan itu, atau setidaknya yang telah dilaporkan, melonjak menjadi 32.035 pada pekan yang berakhir 2 Desember dari lebih dari 22.000 pada minggu sebelumnya.

“Peningkatan kasus dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk melemahnya kekebalan masyarakat dan meningkatnya perjalanan serta interaksi masyarakat selama perjalanan akhir tahun dan musim perayaan,” kata Kementerian Kesehatan dalam sebuah pernyataan.

Kasus yang melibatkan JN. 1 varian, sublineage dari BA. 2,86, saat ini menyumbang sekitar 60 persen kasus Covid di Singapura.

Sedangkan pihak berwenang Singapura menyatakan tidak ada indikasi bahwa BA. 2.86 atau JN. Varian 1 lebih mudah menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) sebelumnya mengatakan kemunculan JN terus berlanjut. Angka 1 menunjukkan bahwa virus ini lebih mudah menular atau lebih baik dalam menghindari sistem kekebalan tubuh.

Namun saat ini, “belum ada bukti bahwa JN. 1 menghadirkan peningkatan risiko terhadap kesehatan masyarakat dibandingkan varian lain yang beredar saat ini,” kata CDC dalam pernyataannya pada 8 Desember.

Malaysia

Di negeri serupun Malaysia, kasus Covid meningkat hampir dua kali lipat dalam seminggu, meningkat menjadi 6.796 pada pekan yang berakhir 2 Desember dari 3.626 pada minggu sebelumnya.

Mengutip Free Malaysia Today, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia Radzi Abu Hassan mengatakan sejak awal Desember ada delapan klaster aktif yang melibatkan total 121 kasus. Sementara penerimaan rumah sakit meningkat sebesar 2,9%.

“Kasus mingguan yang terdeteksi telah melampaui 1.000 setiap minggunya sejak pekan ke-41 hingga pekan ke-47, dengan tingkat peningkatan antara 7,1% hingga 57,3%,” jelasnya lagi dimuat media Malaysia lain, The Star Malaysia.

“Mayoritas adalah klaster yang melibatkan sektor pendidikan,” kata Radzi dalam keterangannya.

Meskipun demikian, ia mengatakan situasinya terkendali. Pihak berwenang di Malaysia memang mengatakan situasinya terkendali dan tidak membebani fasilitas kesehatan.

Sementara itu, menurut pengamat setempat, ahli virologi Universitas Malaya Sazaly Abu Bakar sebenarnya kasus Covid-19 kemungkinan lebih tinggi. Namun hal ini tidak terdeteksi karena masyarakat melakukan tes mandiri dan tidak melaporkan jika hasil tes mereka positif.

“Kasus Covid-19 Malaysia saat ini sebenarnya bisa mencapai 5.000 hingga 10.000 per minggu,” tambahnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Waspada Covid Baru BA.2.86, Dipantau Ketat AS-WHO


(pgr/pgr) 

Updated: Desember 20, 2023 — 2:40 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *